Minggu, 02 Juli 2017

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Pengertian anak berkebutuhan khusus
Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarugu, tunagranita, tunadaksa, tunalaras,kesulitan belajar , gangguan prilaku , anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan.
Istilah lain bag anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa, anak cacat atau anak dengan kedisabilitasan (ADK). Karena karakteristik dan hambatan yang dimiliki ABK memerlukan perhatian khusus yang di sesuaikan dengan kemampuan potensi mereka .
a.       SLB bagian A untuk tunanetra
b.      SLB bagian B untuk tunarungu
c.       SLB bagian C untuk tunagranita
d.      SLB bagian D untuk tunadaksa
e.       SLB bagian E untuk tunalaras
f.       SLB bagian G untuk cacat ganda
Anak berkebutuhan khusus memerlukan perhatian yang spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya karena mengalami hambatan dalam belajar dan perkembangan baik permanen maupun temporer yang disebabkan oleh :
1.      Faktor Lingkungan
2.      Faktor dalam diri anak sendiri
3.      Kombinasi keduanya
Pengertian anak berkebutuhan khusus menurut ahli:
Menurut heward anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusu yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.

Menjelaskan klasifikasi anak berkebutuhan khusus
1.      Gangguan penglihatan (tunanetra) diklasifikasikan menjadi beberapa macam yaitu :
a.       Berdasarkan tingkat gangguannya
           i.      Buta total
           ii.      Buta sebagia
           iii.      Low vision (hanya dapat melihat menjadi bayangan kabur walaupun di sekitar benda terdapat banyak cahaya )
2.      Gangguan pendengaran (tunarungu) dikasifikasikan menjadi beberapa macam yaitu :
a.       Berdasarkan tingkan keberfungsian telinga dalam mendengar bunyi menurut ashman dan elkins (1994)
            i.      Ketunaruguan ringan (20-40 dB)
            ii.      Ketunaruguan sedang (40-65 dB)
            iii.      Ketunaruguan berat (95Db atau lebih )
3.      Gangguan mental rendah (tunagranita) diklasifikasikan menjadi beberapa macam , yaitu :
a.       Berdasarkan berat ringannya
            i.      Debil (ringan ) mempunyai IQ antara kisaran 50 sampai 70. Kondisi fisiknya tidak berbeda dengan anak normal lainnya.
            ii.      Imbesil (sedang ) mempunyai IQ antara 30- 50 ,tampang dan fisiknya sudah dapat dilihat namun masih ada beberapa yang seperti anak normal .
            iii.      Idiot (berat) mempunyai IQ rata rata 30 kebawah , intelegensi yang rendah , tidak mampu menerima pendidikan dan butuh orang lain untuk kesehariannya.
b.      Berdasarkan sosial psikologis
            i.      Psikometrik ada 4 taraf tunagranita berdasarkan kriteria psikometrik menurut skla intelegensi wechsler
1.      Retardasi mental ringan : IQ 55-69
2.      Retardasi mental sedang  : IQ 40-54
3.      Retardasi mental berat : IQ 20-39
4.      Retardasi mental sangat berat : IQ antara <20

c.       Berdasarkan klinis tunagranita dapat digolongkan atas dasar tipe atau ciri ciri jasmaniah secara berikut :
            i.      Down syndrome (mongoloid) memiliki raut muka menyerupai orang mongol dengan mata sipit dan miring , lidah tebal suka menjulur keluar , telinga kecil , kulit kasar , susunan gigi kurang baik.
            ii.      Kretin (cebol) memperlihatkan ciri ciri, seperti badan gemuk dan pendek , kaki dan tangan pendek dan bengkok, kulit kering , tebal dan keriput , rambut kering ,lidah dan bibir, kelopak mata, telapak tangan dan kaki tebal, pertumbuhan gigi terlambat.
            iii.      Hydrocephalus memiliki ciri ciri kepala besar , raut muka kecil , pandangan dan pendengaran tidak sempurna , mata kadang kadang juling
            iv.      Microcephalus memiliki ukuran kepala yang kecil
4.      Gangguan motorik (tunadaksa) diklasifikasi menjadi beberapa macam , yaitu:
a.       Berdasarkan derajat kecacatannya
             i.      Ringan(dapat berjalan tanpa alat bantu )
             ii.      Sedang (membutuhkan bantuan untuk latihan bicara  , berjalan dsb)
             iii.      Berat :membutuhkan perawat tetap dalam ambulasi

Menjelaskan pendidik inklusi
a.       Definisi pendidik inklusi (inclusive Education )
Pendidikan inklusi berarti pendidikan yang bersifat terbuka bagi siapa saja yang mau masuk sekolah baik dari kalangan anak normal maupun anak berkebutuhan khusus
b.      Tujuan pendidikan inklusi
Hak azasi manusia atas pendidikan . suatu konsekuensi logis dari hak ini adalah semua anak mempunyai hak untuk menerima pendidikan yang tidak mendiskriminasikan dengan kecacatan etnis agama , bahasa, jenis kelamin dan kemampuan lain lain .
Selanjutnya tujuan pendidikan inklusi menurut raschake dan bronson , terbagi menjadi 3 yakni bagi anak berkebutuhan khusus , bagi pihak sekolah , bagi gutu dan masyarakat
1.      Bagi anak berkebutuhan khusus
a.       Anak akan merasa menjadi bagian dari masyarakat pada umumnya
b.      Anak akan memperoleh bermacam macam sumber untuk belajar dan bertumbuh
c.       Meningkatkan harga diri anak
d.      Anak memperoleh kesempatan untuk belajar dan menjalin persahabatan bersama teman sebaya
2.      Bagi pihak sekolah
a.       Memperoleh pengalaman untuk mengelolah berbagai perbedaan satu kelas
b.      Mengembangkan spresiasi bahwa setiap orang memiliki keunikan dan kemampuan yang berbeda satu dengan lainnya.
c.       Meningkatkan kepekaan terhadap keterbatasan orang lain dan rasa empati pada keterbatasan anak
d.      Meningkatkan kemampuan untuk menolong dan mengajar semua anak dalam kelas
3.      Bagi guru
a.       Membantu guru untuk menghargai perbedaan pada setiap anak dan mengakui bahwa anak bekebutuhan khusu juga memiliki kemampuan
b.       Menciptakan kepedulian bagi setiap guru terhadap petingnya pendidikan bagi anak berkebutuhan khusu.
c.       Guru akan merasa tertantang  untuk menciptakan metode metode dalam pembelajaran dan mengemangkan kerjasama dalam memecahkan masalah
d.      Meredam kejenuhan dalam mengajar
5.      Karatkeristik pendidikan inklusi
Karakteris tik dalam pendidikan inklusi tergabung dalam beberapa hal seperti hubungan kemampuan pengaturan tempat duduk , materi belajar , sumber dan dijelaskan sebagai berikut
a.       Hubungan
b.      Kemampuan
c.       Pengaturan tempat duduk
d.      Materi belajar
e.       Sumber
6.      Kurikulum sekolah inklusi
Kurikulum yang digunakan di sekolah inklusi adalah kurikulum anak normal (reguler 0 yang disesuaikan (dimodifikasi sesuai )dengan kemampuan awal dan karateristik siswa.
7.      Tenaga pendidik dalam layanan ABK
a.       Tenaga guru
b.      Tenaga ahli
c.       Tenaga administrasi

Pedagogi dan Andragogi


       Pedagogi adalah suatu teori belajar yang cocok dan tepat untuk masa kanak-kanak. Istilah pedagogi berasal dari bahasa Yunani yaitu “paid” berarti kanak-kanak dan “agogos” berarti memimpin. Kemudian Pedagogi mengandung arti memimpin anak-anak atau perdefinisi diartikan secara khusus sebagai “suatu ilmu dan seni mengajar kanak-kanak”. Akhirnya pedagogi kemudian didefinisikan secara umum sebagai “ilmu dan seni mengajar”.

      Pedagogi juga kadang-kadang merujuk pada penggunaan yang tepat dari strategi mengajar. Secara lebih tepatnya, pedagogi mewujudkan pendidikan yang berfokuskan guru. Dalam suatu model pedagogi, guru memikul tanggungjawab untuk membuat keputusan tentang apa yang akan dipelajari, bagaimana yang akan dipelajari, dan kapan akan dipelajari. Pendidikan anak-anak akan berlangsung dalam bentuk asimilasi, identifikasi, dan peniruan.

      Sedangkan andragogi ialah teori belajar yang dikembangkan untuk kebutuhan khusus orang dewasa. Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno "aner", dengan akar kata “andr”, yang berarti orang dewasa, dan “agogus” yang berarti membimbing atau membina. Andragogi berlaku bagi segala bentuk pembelajaran orang dewasa dan telah digunakan secara luas dalam rancangan program pelatihan organisasi, khususnya untuk domain keterampilan lunak (soft skill).

       Seni mengajar orang dewasa berlaku disemua tempat, ketika peserta didik atau warga belajarnya menunjukkan tanda-tanda kedewasaan yang baik. Belajar bagi orang dewasa harus menjadi aktif, bukan proses pasif. Pendidikan orang dewasa menitikberatkan pada peningkatan kehidupan mereka, memberikan keterampilan dan kemampuan untuk memecahkan permasalahan yang mereka alami dalam hidup mereka dan dalam masyarakat.

     Model andragogi menegaskan bahwa lima permasalahan yang harus diperhatikan dan dibahas dalam pembelajaran formal, yaitu:
Siswa dibiarkan mengenal sesuatu kenapa sesuatu itu penting untuk dipelajari.
Peragakan pada siswa bagaimana untuk mengarahkan diri mereka sendiri melalui informasi yang tersedia.
Hubungkan topik tersebut dengan pengalaman siswa itu sendiri.
Orang tidak akan belajar apa-apa kecuali jika mereka siap dan termotivasi untuk belajar.
Diperlukan upaya membantu mereka mengatasi hambatan, perilaku, dan keyakinan tentang belajar.
      Andragogi disebut dalam teks pendidikan sebagai cara orang dewasa belajar. Knowles sendiri mengaku bahwa 4 dari 5 kunci asumsi andragogi terterapkan secara seimbang baik itu untuk anak-anak atau dewasa. Perbedaan yang mendasar yaitu anak-anak memiliki pengalaman yang lebih sedikit dari pada orang dewasa.
Karakteristik pembelajar dewasa:
- Pelajar dewasa biasanya memiliki maksud yang teridentifikasi.
- Pelajar dewasa biasanya memiliki pengalaman sebelumnya.
- Pelajar dewasa bisanya ingin segera mengambil manfaat dari hasil belajarnya.
- Pelajar dewasa memiliki konsep diri secara satu-arah.
- Pelajar dewasa membawa dirinya dengan reservoir pengalaman.
- Pelajar dewasa membawa keraguan dan ketakutan yang luas bagi proses pendidikan.
- Pelajar dewasa biasanya sangat kuat pada ketahanan perubahan.
- Pelajar dewasa memiliki “tujuan yang dewasa”.
- Masalah pelajar dewasa yang berbeda dari masalah anak-anak.
Perbedaan Pedagogi dan Andragogi
Pedagogi :
Pembelajar disebut siswa atau anak didik
Gaya belajar dependen
Tujuan ditentukan sebelumnya
Diasumsikan bahwa siswa tidak berpengalaman dan kurang informasi
Metode pelatihan pasif
Guru mengontrol waktu dan kecepatan
Peserta berkontribusi sedikit pengalaman
Belajar bepusat pada isi atau pengetahuan teoritis
Guru sebagai sumberdaya utama yang memberikan ide dan contoh

Andragogi:
Pembelajar disebut peserta didik atau warga belajar
Gaya belajar independen
Tujuan fleksibel
Diasumsikan bahwa peserta didik memiliki pengalaman untuk berkontribusi
Menggunakan metode pelatihan aktif
Pembelajar mempengaruhi waktu dan kecepatan
Keterlibatan atau kontribusi peserta sangat penting
Belajar terpusat pada masalah kehidupan nyata
Peserta dianggap sebagai sumberdaya utama untuk ide dan contoh


Asumsi Pedagogi dan Andragogi

Konsep diri
Pendagogi : Ketergantungan pada guru
Andragogi : Peningkatan arah-diri atau ketergantungan

Pengalaman
Pendagogi : Berharga kecil
Andragogi : Pelajar merupakan sumberdaya yang kaya untuk belajar

Kesiapan
Pendagogi : Tugas perkembangan: Tekanan sosial
Andragogi : Tugas perkembangan: Peran sosial

Perspektif waktu
Pedaagogi : Aplikasi ditunda
Andragogi : Kecepatan aplikasi

Orientasi untuk belajar
Pedagogi : Berpusat pada substansi mata pelajaran
Andragogi : Berpusat pada masalah

Iklim belajar
Pedagogi : Berorientasi otoritas, resmi, dan kompetetif
Andragogi : Mutualitas/pemberian pertolongan, rasa hormat, kolaborasi, dan informal

Perencanaan
Pedagogi : Oleh guru
Andragogi : Reksa (mutual) diagnosis diri

Perumusan tujuan
Pedagogi : Oleh guru
Andragogi : Reksa negosiasi

Desain
Pedagogi : Logika materi pelajaran
Andragogo : Diurutkan dalam hal kesiapan unit masalah

Kegiatan
Pedagogi : Teknik pelayanan
Andragogi : Teknik pengalaman (penyelidikan)

Evaluasi
Pedagogi : Oleh guru
Andragogi : Reksa diagnosis-kebutuhan dan reksa program pengukuran

Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas merupakan kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar efektif di dalam kelas. Manajemen kelas yang efektif akan memaksimalkan kesempatan pembelajaran murid (Charles, 2002; Everstson, Emmer, & Worsham, 2003).

Enam Karakteristik  yang Merefleksikan Kompleksitas dan Potensi Problem dalam Menganalisis Lingkungan Kelas menurut Walter Doyle (1986):
- Kelas adalah multimensional, artinya kelas adalah setting untuk banyak aktivitas, mulai dari aktivitas  akademik seperti membaca, menulis, dan matematika, sampai aktivitas sosial, seperti bermain, berkomunikasi dengan teman, dan berdebat.

- Aktivitas terjadi secara simultan, artinya banyak aktivitas kelas terjadi secara simultan seperti saat satu klaster murid mengerjakan tugas menulis, yang lainnya mendiskusikan suatu cerita bersama guru, dan murid lainnya mengerjakan tugas yang lain dan seterusnya.

- Hal-hal terjadi secara cepat, artinya kejadian sering kali terjadi di dalam kelas dan membutuhkan respons cepat. Misalnya, dua orang murid yang berdebat tentang kepemilikan sebuah buku catatan ataupun ketika seorang murid lain mengeluh bahwa murid lain menyontek jawabannya.

- Kejadian sering kali tidak bisa diprediksi, artinya meskipun kita telah membuat rencana dengan hati-hati dan rapi, kemungkinan besar akan muncul kejadian di luar rencana seperti seorang murid yang sakit atau dua murid yang berkelahi.

- Hanya ada sedikit privasi, artinya kelas adalah tempat publik di mana murid melihat bagaimana guru mengatasi masalah, melihat kejadian tidak terduga, dan mengalami frustasi.

- Kelas punya sejarah, artinya murid punya kenangan tentang apa yang terjadi di kelas pada waktu dahulu. Karena masa lalu memengaruhi masa depan, adalah penting bagi guru untuk mengelola kelas dengan cara yang mendukung ketimbang melemahkan pembelajaran esok hari.

Tujuan dan Strategi Manajemen
- Membantu murid menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dan mengurangi waktu aktivitas yang tidak diorientasikan pada tujuan.
- Mencegah murid mengalami problem akademik dan emosional.
- Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar efektif.
- Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.

Prinsip Penataan Kelas
- Kurangi kepadatan di tempat lalu-lalang.
- Pastikan bahwa Anda dapat dengan muda melihat semua murid.
- Materi pengajaran dan perlengkapan murid harus mudah diakses.
- Pastikan murid dapat dengan mudah melihat semua presentasi kelas.

Gaya Penataan
- Gaya auditorium, yakni gaya susunan kelas di mana semua murid duduk menghadap guru.
- Gaya tatap muka, yakni gaya susunan kelas di mana murid saling menghadap.
- Gaya off-set, yakni gaya susunan kelas di mana sejumlah murid (biasanya tiga atau empat anak) duduk di bangku, tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain.
- Gaya seminar, yakni gaya susunan kelas di mana sejumlah besar murid (sepuluh atau lebih) duduk di susunan berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk U.
- Gaya klaster, yakni gaya susunan kelas di mana sejumlah murid (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja dalam kelompok kecil.

Strategi Umum
- Menggunakan Gaya Otoritatif
Gaya manajemen kelas otoritatif; berasal dari gaya parenting menurut Diana Baumrind (1971, 1996). Strategi manajemen kelas otoritatif akan mendorong murid untuk menjadi pemikir yang independen dan pelaku yang independen tetapi strategi ini masih menggunakan sedikit monitoring murid.
Gaya manajemen kelas otoritarian; adalah gaya yang restriktif dan punitif. Fokus utamanya adalah menjaga ketertiban di kelas, bukan pada pengajaran dan pembelajaran. Guru otoriter sangat mengekang dan mengontrol murid dan tidak banyak melakukan percakapan dengan mereka.
Gaya manajemen kelas yang permisif; memberi banyak otonomi pada murid tapi tidak memberi banyak dukungan untuk pengembangan keahlian pembelajaran atau pengelolaan perilaku mereka.
- Mengelola Aktivitas Kelas Secara Efektif
Menunjukkan seberapa jauh mereka 'mengikuti'.
Atasi situasi tumpang-tindih secara efektif.
Menjaga kelancaran dan kontinuitas pelajaran.
Libatkan murid dalam berbagai aktivitas yang menantang.

Minggu, 09 April 2017

laporan hasil observasi psikologi pendidikan: manajemen kelas

Laporan Observasi
“ MANAJEMEN KELAS TK DHARMA WANITA PERSATUAN USU"



Oleh;
Kelompok 8

Muhammad Nugraha Zati 161301082
Yustika Rahma Hasibuan (161301092)
Nabila Khairul Husna (161301118)
Chairunissa Syafwinia N (161301125)
Eunike Silitonga (161301136)
Felix Wijaya (161301141)

Shawaliyah Catur Wardhani (161301142)





FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017





 BAB I
Pendahuluan
1)    LATAR BELAKANG
            Pendidikan di TK adalah fondasi untuk meyiapkan anak agar siap belajar formal di tingkat selanjutnya. anak tidak hanya dipersiapkan kecerdasannya, tetapi juga kematangan emosi serta kemampuan sosial anak. di TK, anak diharapkan sudah bisa mandiri dan bersedia menerima otoritas orang lain.
            Dewasa ini, hampir di seluruh dunia anak anak usia dini yang belum siap untuk memasuki sekolah dasar normalnya akan memasuki yayasan-yayasan pendidikan untuk anak usia dini seperti PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) atau TK (Taman Kanak kanak). Khususnya di Indonesia, sudah hampir seluruh provinsi dan kota memiliki Paud dan TK tanpa melihat baik atau tidaknya standar dari masing masing PAUD dan TK tersebut. Namun belakangan, PAUD dan TK yang ada di kota kota besar mulai memperbaiki kualitas yayasan mereka bahkan sudah saling bersaing dalam menjalankan yayasan masing masingnya. kualitas dari pembelajaran, pemenuhan materi dan kebutuhan anak anak di yayasan menjadi perhatian penting untuk tiap tiap yayasan,
     Saat ini tidak sedikit ditemukan Taman Kanak-Kanak (TK) yang salah kaprah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Anak-anak dijejali dengan pelajaran-pelajaran yang sifatnya akademis. telah banyak TK yang memaksa anak untuk bisa aca tulis dan berhitung (calistung) demi kebutuhan SD terhadap calon murid.
         Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. anak yang memang tergolong cerdas dan cepat menyerap pelajaran mungkin tidak mengalami kesulitan. Tetapi, tidak sedikit pula anak yang belum benar-benar siap untuk sekedar pegang pensil dan mengukir huruf-huruf di atas kertas.
    Kunci dari pendidikan di TK adalah untuk menyiapkan keseimbangan yang sehat antara memberikan ruang dan kesempatan yang cukup bagi anak untuk berkreativitas, termasuk membangun inisiatif dalam melakukan suatu kegiatan, serta belajar kecakapan sosial dan mematangkan emosi melalui permainan dalam kelompok. Yang menjadi fokus penelitan ini adalah mengetahui bagaimana manajemen kelas yang ada pada pendidikan prasekolah?
Maka dari itu, kami kelompok 7 melakukan observasi untuk memantau managemen kelas terhadap anak-anak pra sekolah di TK Dharma wanita Persatuan USU


      2)  TUJUAN
Tujuan Observasi ini adalah untuk:
1.      Mengetahui Manajemn kelas pada untuk proses belajar mengajar di TK Dharma Wanita USU.

BAB II
LANDASAN TEORI
1) Anak Prasekolah

            Anak pada masa prasekolah memilki ciri-ciri tertentu. Kartono (1986) mengungkapkan ciri khas anak prasekolah sebagai berikut:

   Bersifat Egosentris naif
Anak memandang dunia luar dari pandangannya sendiri, sesuai dari pengetahuan dan pemahamannya sendiri, serta di batasi oleh perasaan dan pikirannya yang masih sempit. Ia mengganggap bahwa pribadinya adalah satu dan terpadu erat dengan lingkungannya

   Relasi sosial yang primitif
Ciri ini merupakan akibat dari sifat egosentris yang naif dengan ditandai oleh kehidupan anak yang belum dapat memisahkan antara keadaan dirinya dengan keadaan lingkungan sosial sekitarnya. Dengan kata lain, anak membangun dunianya dengan khayalan dan keinginannya sendiri

   Kesatuan jasmani dan rohani yang hampir tidak terpisahkan
Anak belum dapat membedakan kondisi jasmani dan rohani. Isi jasmani dan rohani anak masih merupakan kesatuan yang utuh. Penghayatan anak terhadap sesuatu diekspreikan secara bebas, spontan dan jujur baik dalam mimik, tingkat laku, maupun bahasanya dan anak tidak dapat berbohong atau bertingkah laku pura-pura

   Sikap hidup yang fisiogonimis
Anak bersifat fisiogonomis terhadap dunianya, artinya secara langsung anak memberikan sifat konkrit atau sifat lahiriah, nyata terdapat apa yang di hayatinya. Kondisi ini disebabkan karena pemahaman anak masih bersifat menyatu dan totaliter antara jasmani dan rohani


Menurut Biechler dan Snowman (1953) anak usia 3-6 tahun masuk pada mas prasekolah. Snowman (1993) mengemukkan ciri-ciri anak prasekolah sebgaai berikut:

Ciri Kognitif:  Anak prasekolah umumnya terampil dalam berbahasa. Sebagian dari mereka senang berbicara. Kompetensi anak perlu dikembangkan melalui interaksi, minat, kesempatan, mengagumi, dan kasih sayang

Ciri Sosial:  Umumnya, anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat tetapi sahabat ini cepat berganti, mereka umumnya dapat cepat menyesuaikan diri secara sosial. Anak lebih mudah bermain bersebelahan dengan anak yang lebih besar.

Ciri Emosional : Anak TK cenderung mengekpresikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak dengan usia tersebut. Iri hati sering terjadi, mereka seringkali memperebutkan perhatian guru.

2) Manfaat Pendidikan Prasekolah pada Anak

1.      membantu pembentukan struktur otak anak
2.      saat anak berusia 5 tahun tingkat pertumbuhan otak mencapai 90 persen. sehingga besar sekali pengaruhnya untuk masa depannya jika pendidikan yang diberikan salah.
3.      memiliki pencapaian akademis lebih baik
4.      dengan memberikan anak pendidikan prasekolah maka rasa ingin tahunya akan terpenuhi. sehingga membuahkan hasil yang positif bagi akademisnya.
5.      sebagai tambahan aktivitas harian anak yang lebih berstruktur
6.      di sekolah, anak akan mendapatkan permainan yang berbeda dari permainan yang dia dapatkan dirumah. dalam dunia prasekolah, olahraga juga disertakan untuk aktivitas anak

3) Definisi Pengelolaan Kelas
         Pengelolaan kelas terdidi dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas. pengelolaan ini sendiri akar katanya adalah "kelola", ditambah awalan "pe" dan akhiran "an". istilah lain dari pengelolaan adalah "manajemen". Manajemen adalah kata yang aslinya dari bahasa Inggris, yaitu management yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan
             Pengelolaan adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan dan pencapaian tujuan. Pengelolaan dalam pengertian umum adalah pengadministrasian pengaturan atau penataan suatu kegiatan.
             Adapun kelas adalah suatu kelomok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru atau ruangan belajar atau rombongan belajar.

4) Tujuan Pengelolaan Kelas
Ada beberapa hal yang menjadi tujuan pengelolaan kelas, yaitu sebagai berikut :
1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar.
3. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas.
4. Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.

5). Prinsip-prinsip Pengelolaan Kelas
     Secara umum faktor yang mempengaruhi pengelolaan kelas dibagi menjadi dua golongan yaitu, faktor intern dan faktor ekstern siswa.
      Faktor intern siswa berhubungan dengan masalah emosi, pikiran, dan perilaku. Kepribadian siswa dengan ciri-ciri khasnya masing-masing menyebabkan siswa berbeda dari siswa lainnya sacara individual. Perbedaan secara individual ini dilihat dari segi aspek yaitu perbedaan biologis, intelektual, dan psikologis.
      Faktor ekstern siswa terkait dengan masalah suasana lingkungan belajar, penempatan siswa, pengelompokan siswa, jumlah siswa, dan sebagainya. Masalah jumlah siswa di kelas akan mewarnai dinamika kelas. Semakin banyak jumlah siswa di kelas, misalnya dua puluh orang ke atas akan cenderung lebih mudah terjadi konflik. Sebaliknya semakin sedikit jumlah siswa di kelas cenderung lebih kecil terjadi konflik.
     Djamarah menyebutkan “Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas dapat dipergunakan.” Prinsip-prinsip pengelolaan kelas sebagai berikut :
a. Hangat dan Antusias
      Hangat dan Antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
b. Tantangan
   Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang
c. Bervariasi
      Penggunaan alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian siswa. Kevariasian ini merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.
d. Keluwesan
   Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan siswa, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya.
e. Penekanan pada hal-hal yang Positif
     Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negative. Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku siswa yang positif daripada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar
f. Penanaman Disiplin Diri
      Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan dislipin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengendalikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal.

6). Komponen-komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas
       Komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas ini pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif) dan ketrampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.
     Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal terdiri dari keterampilan sikap tanggap, membagi perhatian, pemusatan perhatian kelompok. Ketrampilan suka tanggap ini dapat dilakukan dengan cara memandang secara seksama, gerakan mendekat, memberi pertanyaan, dan memberi reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan. Yang termasuk ke dalam keterampilan memberi perhatian adalah visual dan verbal. Tetapi memberi tanda, penghentian jawaban, pengarahan dan petunjuk yang jelas, penghentian penguatan, kelancaran dan percepatan, merupakan sub bagian dari keterampilan pemusatan perhatian kelompok.
      Masalah modifikasi tingkah laku, pendekatan pemecahan masalah kelompok, dan menemukan serta memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah, adalah tiga buah strategi yang termasuk ke dalam ruang lingkup keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.

      7) Pengelolan Pembelajaran di Taman Kanak-Kanak
       Ada tiga point inti dalam pembelajaran di Taman kanak-kanak, yaitu Pengaturan  Ruangan/Kelas, Pengorganisasian anak didik, Pengaturan alat dan sumber belajar, penjelasannya sebagai berikut :


1.    Pengaturan Ruangan/Kelas
Ruangan/kelas diatur sedemikian rupa, sehingga kegiatan pembelajaran dapat terlaksana seefisien mungkin. Dalam pengaturan ruangan/kelas ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
a.    Susunan meja-kursi anak bersifat fleksibel dan dapat berubah-ubah.
b.    Pada waktu mengikuti kegiatan, anak tidak selalu duduk di kursi, tetapi dapat juga duduk di tikar/karpet.
c.    Penyediaan alat bermain/sumber belajar harus disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.
d.    Pengelompokkan meja disesuaikan dengan kebutuhan sehingga cukup ruang gerak bagi anak didik.

     Catatan Penting :
a.    Dinding dapat digunakan untuk menempelkan hasil pekerjaan anak.  Pekerjaan anak ditempel di dinding dan dilaksanakan secara bergantian sehingga tidak membosankan dan tidak mengganggu perhatian anak.
b.    Peletakan dan penyimpanan alat bermain/sumber belajar diatur sedemikian rupa sesuai dengan fungsinya, sehingga memudahkan anak untuk menggunakan dan mengembalikan pada tempatnya setelah selesai digunakan.
c.    Penataan ruang kelas, penataan perabotan, asesoris di dinding dan berbagai bahan pajangan hendaknya diubah-ubah secara periodik agar selalu tercipta suasana kelas yang baru dan tidak membosankan.

BAB III 
SISTEMATIKA PELKASANAAN DAN ANALISA DATA OBSERVASI
      A.            SISTEMATIKA PELAKSANAAN OBSERVASI
29 Maret 2017 : Diskusi Kelompok
                        30 Maret 2017 : Observasi
                        4 Mei 2017      : Pengolahan Data
                        6 Maret 2017   : Diskusi Kelompok
B.        ANALISA DATA
            Data diperoleh melalui kegiatan observasi langsung di lembaga sekolah yang telah telah ditentukan.
C.        Sampel Penelitian dan Lokasi Pengambilan Data
            Sampel: Siswa dan guru kelas di TK DHARMA WANITA PERSATUAN USU
            Tempat: TK Dharma Wanita Persatuan USU. Jln. Universitas NO 32, Kampus USU- Medan


BAB IV
LAPORAN DAN EVALUASI DATA
      A. LAPORAN
1.      Jadwal Observasi (Kamis, 30 Maret 2017)
08.00               : Bel berbunyi dan berbaris
08.00 08.15  : Kegiatan awal yaitu salam dan doa
08.15 09.45  : Memulai pelajaran inti
09.45 10.00 : Makan disertai doa dan cuci tangan sebelum makan.
10.00 10.15  : Istrihat yaitu main di luar kelas
10.15 10.45  : Kegiatan akhir yaitu diskusi, doa dan diakhiri dengan salam
10.45               : Pulang

2.      Sitematika Observasi

         Kelompok tiba di TK Dharma Wanita Persatuan USU pada pukul 08.15, anak-anak sudah berada di dalam kelas dan menyambut kedatangan kami. Kelompok masuk pada kelas TK 0 besar. Berhubung pada saat itu kelas 0 besar digabung dengan kelas 0 besar yang lain (kelas 0 besar ada dua). Pada TK Dharma Wanita Persatuan USU terdapat 3 pembagian kelas, yaitu : (1) kelas 0 kecil umur 3 tahun; (2) kelas 0 besar umur 5-6 tahun; dan (3) kelas 0 besar umur 5-6 tahun.


                      


Jumlah dari murid pada kelas tersebut ada 15 orang murid yang hadir pada Kamis, 30 Maret 2017. Kelas Dipimpin oleh guru yang bernama Ibu Ani. Meja pada kelas masing-masing diisi untuk 4 5 orang dan tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan.
         Pada saat kami datang, anak-anak sudah memulai sesi belajar dengan mengerjakan latihan pada buku mereka, dengan latihan menghitung dan menulis.


         Lalu jika sudah selesai mengerjakan latihan, anak-anak akan memeriksakannya kepada guru dan jika benar akan diberi paraf, kemudian lembaran latihannya akan diberi stiker.

         Anak-anak yang telah selesai mengerjakan latihan menghitung dilanjutkan dengan mewarnai.


         Kemudian, anak-anak yang telah selasai mengerjakan latihan dengan baik dan benar diperbolehkan untuk bermain dengan mainan yang ada di dalam ruangan kelas.

         Pukul 09.45 sesi pelajaran inti telah selesai. Kemudian akan dilanjutkan dengan makan yang disertai dengan doa dan cuci tangan sebelum makan. Berhubung kelompok  telah selesai mengobservasi, sebelum anak-anak makan kelompok berinteraksi sebentar dengan anak-anak. Pertama kelompok memulai perkenalan diri. Kemudian kelomopok memberikan hadiah berupa permen kepada anak-anak dengan syarat mereka duduk rapi dan tersenyum. Anak-anak bersemangat dan melaksanakan apa yang kelompok perintahkan. Lalu kelompok memberi satu permen kepada setiap anak. Sebelum menutup observasi anak-anak menyanyikan sebuah lagu berjudul Guruku Tersayang. Kemudian kelompok menutup observasi lalu berpamitan dengan anak-anak dan guru.

         Setelah kelompok keluar kelas pada pukul 10.15, sebelum mereka masuk ke sesi makan ada sebuah penampilan dari anak-anak yaitu membaca puisi.

             B.     EVALUASI
Aspek-aspek perkembangan yang ingin dicapai pada TK Dharma Persatuan Wanita USU meliputi:
1.      Bidang Pembentukan Perilaku
a.       Moral dan nilai-nilai agama
Meningkatkan ketaqwaan anak terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan membina sikap anak dalam meletakkan dasar agama, agar anak menjadi warga negara yang baik.
b.      Sosial, emosional, dan kemandirian
Membina anak agar dapat mengendalikan emosinya secra wajar dan dapat berinteraksi dengan sesamanya maupun dengan orang dewasa dengan baik, serta dapat menolong dirinya sendiri dalam rangka kecakapan hidup.
2.      Bidang Pengengambangan Kemampuan Dasar
a.       Berbahasa
Agar anak mampu mengungkapkan pikiran melaui bahasa yang sederhana secara tepat, mampu berkomunikasi secara efektif dan membangkitkan minat, untuk dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
b.      Kognitif
Mengembangkan kemampuan berpikir anak untuk dapat mengolah perolehan belajarnya, dapat menemukan bermacam-macam alternatif pemecahan masalah, membantu ana untuk mengembangkan kemampuan logika matematis dan pengetahuan akan ruang dan waktu, serta mempunyai kemampuan untuk milah-milah, mengelompokkan serta mempersiapkan kemampuan berpikir secara telii.
c.                   Fisik
Memperkenalkan dan melatih gerakan kasar dan halus, meningkatkan kemampuan mengelola, mengontrol gerakan tubuh dan koordinasi serta meningkatkan keterampilan tubuh dan cara hidup sehat. Sehingga dapat menunjang pertumbuhan jasmani yang kuat, sehat, dan terampil.
            C.     TESTIMONI
    •   Muhammad Nugraha Zati (16-082)
       Tugas observasi ini menurut saya sangat bagus, karena dengan tugas ini kita dapat berkomunikasi dengan anak TK dimana nantinya itu sangat berguna kedepannya, dan saya mendapat pengetahuan tentang manajemen kelas pada anak TK
    •   Yustika Rahma Hasibuan (16-092)
    Menurut saya tugas observasi manajemen kelas pada anak TK ini sangat menarik dan menyenangkan, karena disini saya akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan dalam manajemen kelas pada anak TK. Kemudian mengetahui aspek-aspek yang ingin dicapai pada anak TK.
    •   Nabila Khairul Husna  (16-118)
    •   Chairunissa Syafwinia N (16-125)
      Menurut saya, tugas observasi untuk mata kuliah Psikologi Pendidikan ini benar-benar dapat membantu skill berkomukasi saya dengan anak-anak TK, yang tentunya sayang diperlukan jika akan menjadi seorang psikolog nantinya.Dengan tugas ini, pengetahuan tentang manajemen kelas dan situasi kelas anak TK pun semakin bertambah. TK yang saya kunjungunadalah TK dharma wanita USU dan TK ini memiliki anak-anak yang luar biasa aktif dan periang. Sebelum kelompok kami masuk kelas, anak-anak sudah menunggu kami di depan jendela dan menyambut kami dengan sangat antusias. Di dalam kelas anak-anak di ajar mewarnai dan berhitung dari buku di diberi oleh guru mereka. Anak-anak tersebut begitu semangat mengerjakan tugas. Pengalaman mengobservasi ini benar-benar menyenangkan dan bermanfaat. Melihat anak-anak antusias menyambut kami benar bener merupakan kesenangan sendiri
    •   Eunike Silitonga  (16-136)
      Dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan, kami juga mendapat tugas Observasi. Bagi saya ini sangat bermanfaat, karna materi-materi yang kami dapatkan selama perkuliahan dapat kami aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama, bagi kelompok saya yang mendapat kesempatan untuk melakukan observasi di Taman Kanak-Kanak (TK), disini kami bisa melihat bagaimana perkembangan seorang anak, bagaiman metode pembelajarna yang baik kepada mereka, dan melihat bagaimana mereka beraktifitas. Sehingga kami bisa mengeksplorasi atau mengaplikasikan ilmu yang sudah kami terima didalam kehidupan kami berinteraksi dan bersosialisasi kepada orang lain.
    •   Felix Wijaya  (16-141)
      Bagi saya tugas observasi pendidikan ini sangat menyenangkan karena kita langsung turun ke lapangan. Selain menyenangkan, observasi ini juga sangat bermanfaat dan menambah pengalaman kami juga. Saya dan kelompok melakukan observasi di TK Dharma Wanita Persatuan USU pada tanggal 30 Maret 2017. Kami disambut dan diterima dengan hangat oleh kepala sekolah , guru, dan tentunya oleh adik-adik kecil yang lucu. Proses belajar mengajar juga sangat menyenangkan. Adik-adik tersebut sangat bersemangat dalam menyelesaikan latihan soal mereka. Setelah menyelesaikan latihan soal mereka, adik-adik tersebut bisa bermain-main.
     •   Shawaliyah Catur Wardhani  (16-142)
       Menurut saya, tugas observasi ini dapat memberikan pengetahuan tentang manajemen  kelas yang baik dan benar, terutama pada tingkat pendidikan prasekolah, Dan pada observasi ini juga saya dapat belajar bagaimana cara mengobservasi, karena saya merasa kemampuan mengobservasi saya masih belum masksimal.



Comments system

Disqus Shortname